Gagas Media

Book Reviewv : Let Go – Windhy Puspitadewi

Posted on Updated on

Penerbit : GagasMedia
Penulis : Windhy Puspitadewi
ISBN : 79-780-382-1
Halaman : 244

Rating : 3/5

Caraka yang baru 4 bulan menjalani masa sebagai siwa kelas X, sudah terlibat 2x perkelahian. Karena hal tsb, Ibu Ratna, wali kelasnya memberikan hukuman dengan memasukkan Raka menjadi anggota pengurus Majalah Dinding Sekolah bersama dengan Nathan si Zombie Berlidah Tajam, Nadia si Ratu Salju dan Sarah si Cengeng Penakut.

Awalnya hubungan Raka dengan ke 3 orang tsb tidak bisa dibilang baik. Sulit menyatu apalagi dengan karakternya yang keras. Namun lambat laun karena sifat alami Raka yang selalu ingin menolong teman-temannya, membuat Raka semakin dekat dengan ke 3 orang tsb. Bahkan sempat menimbulkan kesalaha pahaman dengan Sarah. Namun hal tsb bisa diatasi berkat bantuan Nathan.

Di saat Raka merasa sudah dekat dengan teman-temannya, dia harus bersiap menghadapi ketakutan terbesarnya lagi, yaitu kehilangan.

===========================================================

Tema dari novel ini menurutku adalah persahabatan. Percintaan hanyalah bumbu ny saja. Diceritakan bagaimana Raka yang selalu ingin menolong teman-temannya yang berada dalam kesulitan, walaupun dia tidak terlalu kenal dengan temannya tsb. Dan dari persahabatn tsb, kita diajarkan pula untuk menghadapi rasa takut akan kehilangan.

Pemilihan kata yang digunakan dalam cerita ini pun, tidak baku. Namanya juga novel remaja. Hehe..

Tokoh favorit aku adalah……Nathan,,walaupun bermulut tajam, tapi etrnyata itu adalah caranya untuk berlindung dari rasa takutnya akan kehilangan.

Nice story ^^

<a href=”http://www.bloglovin.com/blog/11215425/?claim=a3sv9vcs96a”>Follow my blog with Bloglovin</a>

Advertisements

Book Review: Restart by Nina Ardianti

Posted on Updated on

Judul Buku : Restart
Penulis : Nina Ardianti
Penerbit : GagasMedia
Tebal : 456 Halaman
Tahun Terbit: 2013
Rating: 4/5

Dari semua kebetulan yang bisa terjadi di dunia ini, kenapa sih, aku harus bertemu Yudha di sini? Kota yang tiga ribu kilometer jauhnya dari Jakarta?

Syiana Syahrizka Alamsjah baru saja mengalami patah hati hebat karena sang (mantan) pacar, Pratama Yudha Sjahrizal, berselingkuh dengan mantan pacarnya. Padahal Yudha tahu bahwa kesetiaan merupakan major issue bagi Syiana karena Syiana berasal dari keluarga yang berantakan. Kesedihan itu membuatnya pergi ke Hongkong. Namun ternyata disana dia harus bertemu dengan Yudha.

Dalam pelarian karena bertemu Yudha secara kebetulan, Syiana mendatangi sebuah beer garden. Disana Syiana bertemu dengan si penuduh dan si pemuntah, yang sebenanrya adalah anggota band papan atas, Dejavu.

Sepulangnya ke Jakarta, Syiana langsung disibukkan dengan persiapan launching Music Card dari Asia Pacific Bank, tempatnya bekerja. Karena Dejavu yang terpilih menjadi brand ambassador music card, Syiana harus bertemu bahkan bekerja sama dengan si pemuntah dan si penuduh. Syiana baru tahu ternyata 2 orang menyebalkan yang ditemuinya di beer garden adalah anggota band papan atas.

Pertemuannya kembali dengan Fedrian, si penuduh membuatnya sebal karena kepercayaan diri dari Fedrian. Tanpa basa-basi Fedrian mengajaknya makan siang dan sejak saat itu Fedrian terus-menerus muncul di hadapan Syiana. Pertemuan keduanya selalu dibumbui dengan kata-kata pedas dan sarkastis dari Syiana, dan dibalas dengan serupa oleh Fedrian. Namun perlahan-lahan Syiana membuka dirinya kepada Fedrian yang awalnya begitu menyebalkan yang sangat percaya diri. Di saat yang bersamaan, Yudha terus-menerus berusaha meminta maaf dan bertemu kembali dengan Syiana. Kiriman bunga yang berasal dari Yudha berkali-kali datang di meja kerjanya, tetapi Syiana sama sekali tidak bisa melupakan perbuatan lelaki itu kepadanya. Dan enggan memaafkannya.

Dalam usahanya untuk melupakan Yudha dan move-on, Syiana semakin dekat dengan Fedrian. Karena menurut Edyta – sahabatnya – yang bisa mengobati patah hati hanyalah waktu atau orang yang baru. Syiana menceritakan tentang dirinya, masa lalunya dengan Yudha, dan lain sebagainya. Akan tetapi Fedrian tidak pernah membuka diri meskipun keduanya sudah mulai akrab, Syiana merasa belum benar-benar mengenal lelaki itu sepenuhnya.

Seiring berjalannya hubungan mereka, Syiana merasa bimbang tentang banyak hal. Pertama, Fedrian sama sekali tidak pernah menyatakan perasaannya dengan jelas, dan memberikan kepastian tentang hubungan mereka. Kedua, Fedrian adalah seorang anggota band musik – yang sangat jauh dari kriteria lelakinya (yang seharusnya mempunyai jaminan masa depan yang pasti, tidak seperti artis yang ketenarannya bisa hilang kapan saja). Ketiga, mantan kekasih Fedrian yang bernama Delisa Ahmad adalah Indonesia’s sweetheart yang cantik jelita dan ternyata masih belum bisa move on dari Fedrian. Keempat, lelaki seperti Yudha yang amat ia percaya saja bisa berselingkuh di belakangnya, apalagi Fedrian, lelaki yang bisa mendapatkan gadis manapun yang ia mau bahkan gadis-gadis pun akan sukarela melemparkan dirinya ke dekapan Fedrian. Kedekatannya dengan Fedrian bertujuan untuk membuatnya melupakan tentang Yudha, tetapi sepertinya Syiana malah terjerumus ke dalam jurang patah hati yang lebih dalam.

===================================================

Aku sudah kepincut dengan cara berceritanya Mba Nina sejak membaca Fly to The Sky. Cara bercerita yang mengalir dan gak ngebosenin.

Cerita ini mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu Syiana. Jadi kita bisa tahu apa yang sedang dirasakannya. Galau bangetzzz…

Diawali dengan bagaimana patah hatinya Syiana. Cara dia menghadapi dan melewatinya. Dilanjut dengan adegan demi adegan pertemuannya dengan Fedrian yang akhirnya membuatnya bisa move on dari Yudha.

Bagian favoritku adalah ketika Fedrian menunjukkan perasaannya tidak dengan kata-kata tetapi dengan berbagai cara unik.Bahkan terkadang dengan cara saling memberikan perkataan sarkatis.

Bayak tokoh yang muncul disini selain Syiana dan Fedrian: Edyta, sahabat dari Syiana yang sudah bersahabat selama 17 tahun. Nara, sahabat Fedrian dari SMA. Riza, vokalis Dejavu. Aulia, teman kerja Syiana. Dan tokoh-tokoh lainnya yang keberadaannya mendukung cerita. Tidak ada tokoh yang tidak diperlukan. Dan yang menjadi tokoh favoritku adalah Mamanya Fedrian. Asik juga kalau punya mama kayak gitu.